Aku Rai, Anak baru di sekolah ini. Sekolah yang menurut sebagian kalangan adalah sekolah elit. Menurut Aku biasa saja. Memang dari segi bangunan dan fasilitas sekolah ku memang termasuk Grade A, Fasilitas lengkap mulai dari toilet siswa yang nyaman. Hingga ruang ganti yang aman. Yaah paling tidak itulah yang menurut ku punya nilai plus plus. Karena memang untuk fasilitas yang aku sebutkan tadi sebagian besar di sekolah umum memang kurang dan bahkan tidak ada. Yang lainnya tetap sama. Malah gaya ajarnya pun terkesan sekuler menurutku.
Aku terpaksa masuk ke sekolah ini. Karena mama ditugaskan di sekitar perumahan elit ini. Jadi inilah sekolah yang menurut mama paling dekat. Yaa aku masuk ini karena salah Aku juga. Aku terlalu manja. Membawa motor apalagi mobil pun aku tidak bisa. Padahal mama telah menjadi orangtua tunggal sejak aku berumur dua tahun.
Bicara soal Papa, Aku pernah bertanya papa ke Mama. Kata mama papa kecelakaan setelah itu hanya kucuran air mata mengakhiri cerita. Aku tidak tega melanjutkan pertanyaan ku. Bahkan aku menyimpannya jauh di dalam lubuk hati. Dan tidak pernah menanyakannya lagi. Iya paling tidak itulah yang ku rasa. Terakhir aku menanyakan papa adalah di saat pengambilan ijazah SD ku, Sekarang aku telah kelas dua sekolah menengah atas. Dan dua bulan lagi genap enam belas tahun umurku. Ah... Kadang merasa lucu aja. Sudah sebesar ini sekolah masih di antar jemput mama. Mama ku keren bukan.
Aku menghela nafas panjang. Aku menyeka air mataku. Sepertinya airmata itu menetes sesaat ku ingat mama tadi.
"Hai" seseorang menyapa ku dari belakang.
"Hai" Jawabku singkat, dan sepertinya aku gugup.
"Murid baru?" Dia bertanya sembari menyodorkan tangannya.
"Iya" Aku mengamit tangannya, menggenggamnya kuat. Aku sengaja melakukan itu. Kata buku yang pernah aku baca sih mengatakan begitu.
"Gary" Dia memperkenalkan namanya, dan membalas genggaman tanganku. Mungkin sebelas duabelas kuatnya. Aku pun menyebutkan namaku. Ku lihat dia tersenyum sembari mengucapkan selamat datang.
Aku berjalan di sampingnya, dia diam tapi tetap tersenyum. Aku sedikit bingung, Apakah dia memang seramah itu atau memang suka senyum.
"Tanganmu halus" Dia melirik aku dari sudut matanya.
"Oh iya kah" timpalku menghilangkan gugup. Rasanya sangat lucu cowok bilang dan dikatakan tangannya halus. Meski ku akui tanganku memang halus. Mungkin predikat anak rumahan yang membuat tanganku jadi halus seperti itu.
"Iya" Dia kembali tersenyum. Aku baru sadar kalau senyumnya memang menarik. Mendekati manis, tapi masih ada sisi lakinya. Tidak seperti cowok di drama korea. Senyumnya manis dan terlalu manis. Mirip cewek malahan menurutku.
"Oh ya kelas berapa" tanyanya ketika kami sudah mendekati gerbang.
"11.b" jawabku singkat.
"Berarti kita tetanggaan donk" Katanya, kini dia menoleh kepadaku. Aku mengangkat bahuku. Memberi isyarat kalau aku belum mengetahui.
Sesampai di depan kelas, Dia menunjuk plang nama di atas pintu. Sembari memberitahukan bahwa itu kelasnya. Diaternyata dia tidak berbohong. kelasnya persis bersebelahan dengan kelasku. Dia masuk ke kelasnya dan aku pun masuk ke kelasku.
Di dalam kelas aku baru sadar kalau aku harus ke ruang kepala sekolah dulu. Biar nanti kepala sekolah yang mengantarku ke kelas. Begitu kesepakatan yang Aku dengar kemarin waktu Mama dan kepsek berbicara.
Aku langsung menuju ruang kepsek di bagian dalam. Melewati kelas Gary. Aku lihat dia baru saja melepas tas punggungnya. Dia duduk di bagian belakang paling pojok. Ku pikir dia sepertinya nakal. Tapi dari cara dia menyapa dan menyalami aku. Tidak ada kesan kalau dia nakal. Hanya saja waktu bersalaman tangan sedikit keras menggenggam dan menurutku itu wajar. Karena dia laki-laki.
Sesampainya di ruang kepsek. Ku lihat bapak yang sedikit buncit tapi rapi itu sedang menulis sesuatu. Entahlah apa yang dia tulis. Aku salut dengan kepala sekolah ini. Masih pukul tujuh pagi. Tapi dia sudah berada di ruangan kerjanya. Padahal di ruang guru tadi ku lihat masih sepi.
Aku mengetuk pintu, meski pintunya tidak tertutup.
"Ehm.. Selamat Pagi Pak,"
"Oh nak Rayhan, Mari masuk Nak" bapak kepsek menyuruhku masuk. Dari bahasa dan caranya. Aku yakin bapak ini sangat santun. Aku melangkah masuk, pak Kepsek yang aku lupa namanya mempersilahkan aku duduk di sofa yang ada di depan mejanya. Dia duduk tidak jauh dari ku.
"Nak Rayhan sudah lihat kelasnya?" tanya Pak kepsek memulai obrolannya.
"Udah pak" jawabku sembari mengangguk, Pak kepsek kemudian menjelaskan bahwa dia yang akan mengantar ke kelas. Dia juga menjelaskan bahwa aku tidak jadi dimasukkan ke kelas 11.b karena kelas 11.b telah mencapai kuota maksimal perkelas yaitu 20 orang. Bapak Kepsek kemudian menyebutkan bahwa setelah di cek 11.a hanya 19 orang disebabkan 1 orang baru pindah satu bulan yang lalu. Dia tidak mengetahui karena data baru masuk tadi pagi. Dia kemudian menunjuk kertas di mejanya. Dan Aku tebak kertas itulah yang dicoret bapak kepsek tadi. Cukup lama bapak kepsek menjelaskan semua hal tentang sekolah baru ku ini. Mulai dari a sampai z, Dan bisa ku simpulkan Bapak Kepsek ini memang kepala sekolah yang baik, ramah, lugas dan tegas.
"Ting Tong, Ting Tong, Ting Tong" bunyi bel tanda jam belajar di mulai. Ku hitung pastinya bel itu berbunyi 3 kali. Pak Kepsek menghentikan ceritanya.
"Nah nak Rayhan, Jam belajar sudah dimulai. Mari bapak antar ke kelas" Ucapnya. Aku membiarkan beliau berjalan terlebih dahulu. Aku mengikuti dari belakang.
Tepat di depan pintu kelas. Pak Kepsek mengetuk pintu. Dan minta ijin mengganggu. Guru berbaju biru parsel tersenyum cantik dan mempersilakan kami masuk. Ku lihat ke dalam kelas. Sepertinya mereka baru saja selesai berdoa. Kepala sekolah menyapa semua yang ada di dalam. Dia kemudian memperkenalkan Aku. Setelah selesai perkenalan Ibu Rina yang baru Aku tahu namanya menunjukkan tempat dimana aku harus duduk. Disamping Gary, anak yang baru Aku kenal di gerbang tadi. Sekaligus teman pertamaku di sekolah ini dan di kelas ini. Ku lihat Gary tersenyum ketika aku tanyakan apa aku boleh duduk di dekatnya. Dan tidak dapat kusangsikan senyum Gary memang manis, tapi laki.
Itulah hari pertama ku di sekolah ini. Cukup memberikan kesan yang menarik di hatiku. Hari pun berjalan sebagaimana mestinya.
*********
Genap tiga bulan aku di sini. Di sekolah baru ini. Aku sudah bisa beradaptasi. Dan aku bersyukur aku bisa menikmati sekolah ini dengan baik. Gary teman sebangku ku. Dan mungkin sahabat baruku di sini semakin dekat dengan ku. Dia ternyata memang bandel, Cowok urakan, Gak nurut tapi satu yang aku salut sama dia adalah meski urakan, Gary tipe cowok yang sangat bersih. Meski kurang rapi, Tapi dia sangat bersih.
Itu terbukti dari kebiasaan dia, Meski suka ngemil namun meja dan lacinya bebas sampah. Dia selalu buang sampah bekas cemilan dia di tempat sampah usai jam pelajaran. Satu lagi dia tipe cowok maskulin yang selalu wangi. Dia sepertinya tipe cowok yang memakai parfum yang di semprotkan ke tubuh alias body spray. Aku tahu itu saat dia mengibas-ngibaskan bajunya ketika suhu kelas panas. Dan ketika dia mengangkat tangannya.
"Ngelamun woi" Gary mencolek pinggangku dengan jari tengahnya. Aku ngelunjak kaget dan menoleh ke dia. Dia malah balas dengan senyuman. Dan berbisik
"Sssst Pak Ari" dia mengarahkan matanya ke depan. Ku lihat Pak Ari memperhatikanku. Mukanya agak kesal ketika ku menoleh ke arahnya. Aku memang ngelamun tadi. Menatap arah jendela, menatap rintik hujan di luaran. Sudah hampir seminggu diguyur hujan. Kota ini dibuat sangat dingin, aku sudah 3 hari berturut turut memakai sweater ke sekolah. Gary tak ku lihat sekalipun mengenakan baju hangat ke sekolah. Hanya saja tadi dia di antar pake mobil ke sekolah. Dia yang biasanya pake jaket sport karena mengendarai moge. Udah seminggu ini alpa menggunakan jaket.
Bel pulang pun berdentang. Gary mengajakku ke rumahnya. Dia berdalih aku belum pernah ke rumahnya. Benar saja, sudah tiga bulan di sini berteman dengannya aku belum pernah ke rumahnya. Itu dikarenakan aku memang anak rumahan. Pagi di antar mama pulang di jemput mama.
"Tapi.."
"Udaaah.. Ikut aja... Ntar aku bilangin mama mu" Dia memotong ucapanku. Memotong agar aku tidak beralasan. Dia menarik tangan ku, tepatnya menggenggam. Ya benar saja, Gary menggenggam tanganku. Dia menyelipkan jari-jarinya di antara jariku. Aku sedikit merasa aneh tapi keburu ditarik dan tidak sempat lagi memikirkannya.
Gary membawaku ke tempat dimana biasanya Mama menjemputku. Dia sudah tahu sekali sepertinya. Ku lihat Mobil merah mama belum terparkir di sana. Aku dan gary memilih duduk di dekat halte tak jauh dari tempat biasanya mama menjemput. Tidak selang berapa lama ku melihat mobil berwarna putih menepi dan mendekat di tempat kami duduk. Kacanya perlahan turun.
"Tunggu bentar Om" Suara Gary separuh berteriak, Orang yang dipanggil Om sama Gary mengangguk. Sekilas ku lihat dia menoleh padaku. Aku balas tersenyum, Om itu kemudian mengangguk dan balas tersenyum.
"Siapa" Tanyaku setengah berbisik
"Om Doni, Supir Papa" Balasnya sedikit berbisik, Aku mengangguk dan sepertinya Gary tidak memperhatikanku dia malah menunjuk mobil Merah yang menepi di tempat di mana aku biasa menunggu. Dan Aku yakin itu mobil mama, Perlahan kaca mobil terbuka.
"Halo Tante," Sapa Gary sedikit membungkuk, Mama balas tersenyum kemudian melirikku. Mungkin mama merasa aneh karena tidak biasanya aku bersama teman apalagi teman cowok dan berdiri sedekat ini.
"Temennya Ray?" Mama menanya gary, Setelah melihatku sejenak.
"Iya Tante, Oh Ya Tante Ray nya nginap di rumah Gary ya Tan"
Ku lihat ekpresi mama seperti tidak percaya, kemudian sedikit melongo memandang ke arahku. Aku membalas tak kalah melongonya.
"Tt.." Mama sedikit gugup mungkin dikarenakan masih tidak percaya aku mau nginap di rumah gary.
"Boleh ya Tan, Itu udah di tunggu Om" Gary menunjuk mobil putih di seberang. Mama menoleh ke arah mobil Gary.
"Tapi kan Ray gak bawa baju ganti sayang" Mama sepertinya mencari alasan,
"Hehe aman Tan, Baju di rumah ada ko, Lagian badan sama gedenya dengan badanku" Dia menepuk bahuku sambil tersenyum ke Mama.
"Ya Udah, Ga pa pa, Tapi Tante yang antar ya" Mama masih mencoba cara lain.
"Gak usah tan, itu om Doni udah nunggu dari tadi. Kasian" Jawab Gary sambil tersenyum. Akhirnya mama luluh. Aku masih bingung atas apa yang terjadi. Meski akhirnya mama ngasih ijin buat aku nginap di rumah Gary. Tapi beliau tetap menyuruh telpon sesampainya di rumah Gary. Aku mengiyakan. Dengan kata hati hati mama berlalu. Aku dan gary menuju mobilnya gary. Meluncur ke rumah gary yang aku tidak tahu di mana.
Tak sampai 15 menit, Kami memasuki perumahan dan sepertinya komplek perumahan mewah. Benar saja, kulihat rumah rumah mewah berjejer. Dan sampailah kami di rumah Gary. Om doni membunyikan klakson dua kali. Tak lama pintu pagar ada yang membuka. Kulihat sebuah rumah mewah dengan dihiasi batu alam dan halaman yang cukup luas dengan tanaman bonsai mahal. Aku tahu bonsai itu mahal karena pernah di ajak mama ke toko bunga bonsai dan mama tidak jadi membelinya karena mahal.
Gary kemudian membuka pintu dan masuk ke rumah. Gary mempersilahkan aku masuk. Gary mencegahku yang akan membuka sepatu, dia bilang bawa aja ke kamar. Aku pun mengekori dia menuju kamarnya. Memasuki kamarnya aku sedikit kaget, kamar gary yang luas, rapi dan wangi. Ku lihat di sudut ada satu set drum bermerek. Di sudut lain ada keyboard piano elektrik dan sepertinya juga mahal. Tak ku sangka Gary anak orang kaya. Ku lihat di dinding terpajang potonya dengan ukuran besar.
"Itu waktu kelas dua smp" Katanya melihat aku memperhatikan potretnya super jumbo itu. Dalam hati aku berkata ko cakepan sekarang ya.
Gary menyuruh aku meletakkan tas ku di meja sudut ruangan dekat televisi dan sepertinya home teater merek sony. Dia membuka lemari mengeluarkan dua macam celana dan baju. Satu celana panjang dan satu lagi pendek di atas lutut. Dan dua buah baju, satu tank top dan satu lagi oblong. Aku memilih celana pendek dan oblong. Ketika ku berbalik mau mengembalikan celana panjang dan tanktop ku lihat gary membelakangi ku. Dia hanya bercelana dalam jenis boxer dan sedang mengenakan celana pendek ku lihat punggungnya yang padat berisi dan kering mengkilap diterpa cahaya dari jendela. setelah mengancingkan celananya dia berbalik dan menghadap persis ke arahku. Deg... Tiba tiba jantungku berdetak kencang. Tak ku sangka tubuh gary berisi, padat dan kering. Dadanya yang bidang dengan dua buah dada terbentuk sempurna. Dihiasi dua puting susu yang menurut ku seksi. Merat menyembul dan punya lingkar merah jambu sddikit besar dari punyaku. Dan sepertinya ditumbuhi beberapa bulu agak panjang. Tapi herannya dadanya mulus. Tepat di bawah buah dadanya yang membuatku berdebar ada perut yang tidak sixpack tapi datar sedikit berotot. Tepat di bawah pusat ada rambut yang sepertinya mengarah ke kemaluan Gary. Kemaluan yang sangat besar menurutku. Aku bisa memperkirakannya karena celana dalam boxernya berbongkah besar tepat di bawah pusar gary. Aku tidak tahu. Apakah batang kemaluan gary dilipat ke bawah atau ke atas yang pasti menurutku adalah ukurannya yang sepertinya dua kali ukuran punyaku.
Gary mengambil tanktop dan mengenakanya. Kemudian mengambil celana panjang. Ku kira akan di pakai gary. Eh malah di masukan lemari. Jadi gary hanya mengenakan tanktop merah dengan celana dalam boxer. Menurutku gary sangat seksi dengan pakaian seperti itu. Pahanya yang padat dan pantat montoknya jadi terlihat jelas. Dada nya dan otot lengannya menyatu menambah kesan sexy. Ditambah perpaduan kulit putih langsatnya dipadu warna merah tanktop sangat cocok.
"Tok tok tok"Kudengar pintuyang diketuk.
"Gary, Makannya udah siap" Teriak suara dari luar.
"Iya Bi, Tarok di depan pintu aja dulu, Gary lagi ganti baju" Sahut gary
"Iya Gary, Bibi udah bikinin porsi untuk dua orang" Jawab suara dari luar.
"Iya Bi makasih" Sahut gary. Aku memberi isyarat menanyakan siapa orang di luar. Dia menjelaskan bahwa itu Bibi Imah, Asisten Rumah tangga di sini. Kata Gary Dia melarang bibi memanggil aden atau apalah. Karena dia memang gak ingin seperti itu. Sekali lagi aku merasa ingin mengajungi gary dua jempol tepat di mukanya.
Menginap di rumah gary membuatku lupa hari. Gary yang ternyata punya hobi di musik dan menonton. Beberapa kali mengajarkan aku menggebuk drum yang belum pernah sama sekali aku lakukan. Dia beberapa kali menertawakan ku melihat gaya ku memukul drum. Dia bilang pukul aja sekuat tenaga, tidak masalahh karena drumnya kualitas bagus dan jangan takut di lempar tetangga. Karena kamar gary di pasangi perwdam suara yang sangat bagus. Bahkan suara drum tidak akan terdengar di dalam rumah sendiri.
Gary beberapa kali memelukku dari belakang untuk mengajarkanku cara memegang dan memukul drum. Mulai dari langkah dan urutan drum yang dipukul. Tapi aroma tubuh gary dan gesekan kontolnya di punggungku justru membuatku tidak konsentrasi. Beberapa kali aku harus mencium aroma gary tepat di lehernya. Dan beberapa kali aku jadi terangsang ketika mencium aroma tubuh gary di tingkab gesekan kontol gary yang besar di punggungku. Ah gary... Apakah perasaan suka pada aroma pria dan tubuh pria kembali menggelora. Perasaan aneh yang ku coba bunuh dari sejak aku pubertas. Kurang lebih saat kelas 2 SMp beberapa tahun yang lalu.
Kontolku yang sudah sangat keras rasanya menyesak di celana. Celana gary yang ku kenakan terasa sempit. Dan aku yakin kontol gary tidak hidup. Karena besarnya sudah bisa ku tebak. Tidak ada rasa hangat atau penambahan volume di kontol gary. Aku pastikan dan coba kosentrasi menikmati gesekan kontol gary. Dan aku yakin anak tu memang memiliki kontol yang lumayan.
Malam pun datang, setelah puas ngedrum, piano dan nonton. Kami pun tertidur. Tempat tidur gary sebenarnya adalah springbed singel ukuran besar. Itu terbukti gary terpaksa haru menyingkirkan gulingnya untuk memberiku ruang. Aku seperti biasa tidak pernah semengantuk ini. Mungkin sedikit kelelahan dilatih gary.
Akupun mulai mengantuk dan gary pun telah terlebih dahulu tertidur. Ku lihat tidurnya pulas sekali. Masih Dengan kostum tanktop dan cuma kolor boxer dia tidur telentang. Mataku kumbali tertuju pada bongkahan di balik boxer itu. Perlahan bergerak dan aku yakin kontol gary ereksi. Mungkin dia bermimpi sedang melakukan hubungan badan dengan pacarnya.
Eh apa gary punya pacar? Selama tiga bulan aku di sekolah dan sekelas dengannya belum pernah aku lihat gary dekat dengan cewek. Gary hanya cuek dan sesekali berkumpul dengan para ladies di kelas.
Bug.. Tangan gary mendarat di dadaku. Aku yang tidurnya telentang tiba-tiba dipeluk gary. Kontolnya yang tadi ku lihat ereksi menempel di pahaku. Hangat, besar dan ku tebak panjangnya mendekati angka delapan belas sentimeter. Hangat dari kontol gary sepertinya menular ke kontolku. Kontolku juga ikut bereaksi. Aku heran, kenapa kontolku selalu hidup di saat melihat dan berinteraksi dengan kontol gary. Aku tidak tahu kenapa aku selalu saja terangsang jika dekat gary. Aku jadi kikuk di dalam pelukan gary. Sementara kontolku juga ereksi. Aku takut gary tahu kontolku juga hidup dipelukannya.
Menghilangkan rasa gugup ku angkat tangan gary dari dadaku dan ku letakkan di dekat perutnya. Aku semakin gak karuan melihat perut gary tebuka hingga hulu hati. Perutnya yang halus, datar dengan sedikit bentuk mengotak dan berbulu halus di bawah pusar tepat di ujung kepala kontol gary yang terhalang ban celana dalam boksernya. Aku sungguh gelisah melihat pemandangan itu. Ku punggungi gary sekalian menyembunyikan kontolku yang juga sudah 200 persen tegang. Ku pejamkan mata mencoba mengalihkan fikiran dan bayangan yang menyerupai kontol besa, keras dan panjang milik gary.
Antara tidur dan tidak kontolku mulai melemas. Aku tidak berani membalikkanbadan ke arah gary. Tapi justru aku malah mendengar gary mendesah. Suara gary saat mendesah terdengar jantan dan sexy sekali. Kembali kontolku bereaksi. Dan gary kembali memelukk. Kini lebih erat pas di dadaku. Gari menarik dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hawa hangat tubuh gary menyelinap dipelukannya. Mukanya seakan di masukkan di antara leher bagian belakangku. Lebih terkejutnya kontol gary makin menempel dan pas di belahan pantatku. Gary seperty menggesek gesekkan kontolnya di belahan pantatku. Hangat dan gesekan kontolnya benar-benar membuat aku horny bukan kepalang. Ditambah pelukannya di dada seakan meremas susuku. Hembusan nafasnya di leher semakin menambah alasan tuk mengatakan kalau kontolku hidup.
**********
Suara alaram membangunkanku yang masih mengantuk. Ku lihat jam menunjukan pukul tujuh pagi. Ku lihat Gary di belakangku sudah tidak ada, mungkin di kamar mandi karena ku dengar suara air di kamar mandi yang ada di pojok ujung kamar gary.
Ku raih handphone ku yang terletak di meja. Kulihat ada pemberitahuan panggilan tak terjawab tiga kali dan itu dari mama. Aku baru sadar aku lupa menelpon mama sesampainya di rumah gary. Aku panggil mama dan..
"Rayhaaaan... Kenapa gak nelpon Mama sayang? " tanya Mama langsung di ujung telepon.
" Maaf Mama, Ray lupa" Jawabku sedikit melunakkan suaraku. Aku yakin jika nada suara mama sudah seperti itu. Sudah bisa ku pastikan mama marah. Tapi mama tidak pernah membentak jika marah.
"Ray sekarang dimana?" tanya mama
"Masih di rumah Gary ma" jawabku
"jam berapa balik sayang? Mama bikinin bakwan kesukaan ray. Ajak gary sekalian ya sayang"
"Iya ma" jawabku pendek
"Okeh cepet ya" Jawab mama diikuti nada tut kalau mama telah mengakhiri sambungan telepon.
Gary keluar dari kamar mandi, parahnya dia keluar dengan telanjang. Handuk malah di pakainya mengeringkan rambutnya. Aku langsung menganga melihat pemandangan seperti itu. Tubuh gary yang separoh basah terlihat sexy sekali. Kontolnya yang panjang dengan buah zakar yang padat dan besar juga menggantung memerah di bawah pusarnya. Seperti digantung bulu halus dari pusarnya ke bawah. Aku langsung melempar bantal ke arahnya.
Gary reflek menangkap bantal, sepertinya dia kaget tapi tetap tersenyum sembari menutup bagian kemaluannya yang menurutku tidak punya malu dengan bantal yang ku lemparkan tadi. Jagoan ku perlahan bergerak, sepertinya dia bereaksi melihat kontol gary yang menggantung panjang dengan zakar yang besar. Tubuh gary pun sedikit mengkilap dengan beberapa butir air masih menempel di badannya. Sungguh sangat sexy. Aku menarik selimut menyembunyikan kontolku yang menegang. Gary kembali melemparkan bantalnya ke arahku. Dia menuju ke arah lemari mengeluarkan baju dan dalamannya.
"Mandi gih sana" Kata gary sambil menyungging membelakangi ku. Dia mengenakan dalaman boxer. Pantatnya yang montok membuat kontolku semakin mengeras. Aku berusaha menyembunyikan kontol di balik selimut. Aku tidak mau gary melihatnya.
"Iya"Jawabku kemudian berlari ke kamar mandi.
Aku langsung bersandar di pintu kamar mandi. Kemudian merunduk, Kulihat kontolku membentuk bongkahan besar di sana. Kontolku hanya sedikit lebih kecil dari punya gary, Kontol Gary sepertinya lebih panjang.
"Gary, aku mandi ya. Sabunnya mana?" tanyaku dari dalam kamar mandi.
"Ada di dalam, pojok kanan atas" jawab gary. Aku mengambil sabun sesuai petunjuk gary. Dan mulai byur byur. Selesai mandi aku baru sadar handuk tidak di dalam. Sekali lagi aku minta tolong handuk ke gary. Dia malah menyuruh ambil sendiri, gila nih anak. Mana baju yang ku pake tadi sudah masuk tempat baju koto dan basah. Apa aku harus keluar telanjang juga seperti gary tadi?
Aku keluar dengan kedua tangan menutup kontol. Gary malah tersenyum kecil dari kasur melihat ku. Aku harus lewat di depannya untuk mengambil handuk. Yang masih teronggok di depannya. Aku jadi bingung mau ambilnya gimana. Kalau aku ambil aku harus angkat tangan dari kontolku. Ku lihat gary makin tersenyum. Dia kemudian bangkit dan mengambil handuk. Menyarungkan padaku dari belakang. Sambil berbisik. Menyuruh angkat tanganku. Aku r@gu, tapi harus ku angkat.
"Lumayan" bisiknya lagi.
"Maksudnya? "aku melirik ke arahnya.
" Kontolnya" dia tersenyum licik. Ku dorong dia dengan pantat setengah menungging. Dia malah memegang pinggulku. Kemudian memelukku, perasaanku jadi tak karuan. Serasa ingin menolak tapi ada rasa nyaman di sana.
Gary membenamkan mukanya dari belakang leherku. Aku reflek menengadah dan sedikit mendesah. Saat tangan gary bergerak melepas handuk, sedangkan tangan satu lagi ke dadaku. Aku terkejut dan menjauh dari Gary. Apa yang telah aku lakukan. Tepatnya kami lakukan. Aku melihat Gary dengan sedikit terkejut. Tapi senyumnya meluluhkan. Oh Gary kenapa ini.
Kulihat gary tertawa terbahak, dia rebahan di depan televisi dan menghidupkan PS. Sambil masih meliriknya dengan rasa yang aneh.
"Bajunya di kasur, jangan pake bengong dulu ah" Katanya sambil tersenyum. Dan senyum tetap membuatku luluh. Padahal apa yang baru saja dia lakukan membuat aku marah. Ah gary, kenapa begitu?
"Duduk di sini" Gary menepuk sofa di sampingnya, seperti tidak ada kejadian dia menyuruhku duduk di sampingnya. Mengajak bermain ps. Aku duduk tepat di sampingnya, persisi seperti apa yang dia suruhkan. Sebelum duduk aku mencium bau khas yang sudah hampir tiga bulan ku kenal baunya. Selarang jauh lebih kuat dari biasanya. Mungkin karena gary baru saja menyemprotkannya saat aku mandi tadi atau memang karena kondisi tubuh gary yang hanya mengenakan tank top? Entahlah yang pasti bau ini membuatku nyaman, meski jujur bau ini membuat aku terangsang dan sangat terangsang.
Ku tepis bau yang membuatku horney dengan mengambil stik ps. Gary langsung menghentikan mainnya dan memilih mode multyplayer di layar. Dan mulai memainkannya. Asik bermain dengan gamenya. Karena serunya dan kebawa prasaan gary sering mengamitku ke dalam pelukannya. Sering aku tertidur di perutnya yang sedikit padat dan berkotak. Aku membiarkannya karena jujur saja aku menginginkannya.
Asik dengan mainannya gary pun terbaring, dia sepertinya capek. Tertidur di sofa dengan baju sedikit terangkat ke dada. Sekali lagi perut gary yang mulus sedikit berkotak. Lama aku terdiam menatap perutnya. Aku menelan ludah memandang gary tertidur. Perlahan ku coba dan beranikan diri untuk merebahkan kepala di dada gary. Ketika kepalaku menempel di dada gary yang bidang dan berbentuk serta padat itu. Tidak ada reaksi dari gary. Ku lihat dia masih tertidur. Ku letakkan telapak tangan ku di perut gary. Dari ulu hati ke gerakkan tanganku ke arah bawah pusar. Tepat di atas rambut halus di bawah pusat. Ku rasakan seperti ada gerakan dari tubuh gary. Tapi hanya sedikit, tiba-tiba tangan gary menempel di kepalaku. Seperti mengusap, dan benar gary mengusap rambutku, dia membelai dari ubun ubun ke belakang. Ku tengadahkan kepala menatap ke arah gary. Dia balas menatap ke arahku dan tersenyum. Kemudian melanjutkan mengusap kepalaku. Aku membenamkan kepalaku di perut gary. Gary kemudian menggengam tanganku yang mengelus perutnya. Dia masukkan jarinya di antara jariku. Mataku yang tepat berada di depan kontol gary langsung fokus pada gerakan yang terjadi di depan mataku. Tepatnya dalam dalaman boxer gary. Gundukannya besar.
Sejenak aku terpana, gary tiba tiba menarik turun dalamannya. Kontol gary langsung menyembul keluar dari persembunyiannya. Tegak lurus di depan mataku. Aroma jantan mengalir di hidungku, bercampur aroma maskulin sabun mandi yang di pakai gary. Aku menelan ludah melihat kontol gary yang berdiri tegak di depan mataku. Ku lepas genggaman gary. Kemudian ku raih kontol gary. Hawa hangat terasa dari kontol gary.
To be continue